Kunjungan ke Curug Leuwi Lieuk Bogor
PENGEMBANGAN WISATA CURUG LEUWI LIEUK

KARYA TULIS ILMIAH
Memenuhi Tugas Dan Syarat Mata Kuliah Soft Skill
Oleh
Hesti Ariska (13618143)
Kelas 1SA01
JURUSAN
SASTRA INGGRIS
FAKULTAS
SASTRA DAN BUDAYA
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2019
ABSTRAK
Pariwisata merupakan
salah satu factor utama yang dimiliki kota Bogor. Banyak objek wisata yang ada
di kota Bogor atau yang di sebut kota hujan itu, keasrian menjadi kesan pertama
ketika para wisatawan sampai di kota Bogor. Kota Bogor memiliki banyak tempat
wisata, seperti wisata sejarah, budaya, dan kuliner dan banyak keindahan alam
yang masih sangat alami di Kota Bogor. Pepohonan yang rindang akan menyejukan
suasana hati ketika kita berada di bawahnya. Banyak pasar-pasar tradisional
yang dapat kita temui di kota Bogor. Cuaca yang sangat bersahabat membuat siapa
saja nyaman berada di kota Bogor. Bogor sudah menjadi destinasi liburan
keluarga setiap tahunnya, banyak sekali wisatawan berkunujung ke kota Bogor
untuk sekedar mendapatkan ketenangan dari keindahan alamnya. Di Bogor banyak
sekali tempat-tempat wisata yang akan membawa wisatawan berpetulangan
menelusuri sawah-sawah yang hijau, Suasana pedesaan yang masih sangat Asri, air
terjun atau curug yang memiliki air jernih. Banyaknya tempat wisata di kota
Bogor yang memang di jadikan ladang usaha untuk masyarakat sekitar, membantu
perekonomian menjadi lebih baik. Akan tetapi masih banyak factor yang harus di
perbaiki agar tempat wisata di Bogor lebih dapat di kunjungi oleh banyak
wisatawan local maupun mancanegara. Adanya penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji bagaimana cara mengembangkan tempat pariwisata yang ada di kota Bogor
agar Bogor dapat lebih di kenal oleh banyak orang, dan menjadi destinasi yang
banyak di rindukan oleh semua orang. Serta agar perekonomian di kota Bogor
lebih baik, sehingga tercipta kota yang makmur yang memiliki banyak potensi di
dalamnya dan dapat menjadi kota yang maju yang di sukai banyak orang. Mencari
solusi bagaimana proses pengembangan wisata di kota bogor dapat di
realisasikan.
Kata Kunci : pariwisata, wisatawan, air
terjun, Bogor, pengembangan
ABSTRACT
Tourism is one of the main factors owned by the city of Bogor. Many
tourist attractions in the city of Bogor or what is called the city of rain,
the beauty of the first impression when tourists arrive in the city of Bogor.
The city of Bogor has many tourist attractions, such as historical, cultural
and culinary tours and many natural beauty that are still very natural in the
city of Bogor. Shady trees will cool the mood when we are below it. Many
traditional markets that we can meet in the city of Bogor. Very friendly
weather makes anyone comfortable in the city of Bogor. Bogor has become a
family vacation destination every year, lots of tourists end up in the city of
Bogor to just get the tranquility of its natural beauty. In Bogor there are
many tourist attractions that will bring tourists to explore the green fields,
still very beautiful rural Suasna, waterfalls or waterfalls that have clear
water. The number of tourist attractions in the city of Bogor is indeed made a
business field for the surrounding community, helping the economy to be better.
However, there are still many factors that must be improved so that tourist
attractions in Bogor can be visited by many local and foreign tourists. The
existence of this study aims to examine how to develop tourism places in the
city of Bogor so that Bogor can be better known by many people, and become a
destination that many people miss. And so that the economy in Bogor is better,
so as to create a prosperous city that has a lot of potential in it and can
become an advanced city that many people like. Looking for solutions to how the
tourism development process in Bogor city can be realized.
Keywords: tourism, tourists, waterfalls, Bogor, development
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan
rahmatNYa, sehingga penulis dapat melaksanakan Karya Wisata dan dapat
menyelesaikan Laporan Karya Wisata yang berjudul Curug Leuwi Lieuk ini tepat
pada waktu yang di tentukan.
Penulis berharap
dengan laporan karya wisata ini semakin menajamkan ketrampilan berbahasa
penulis, khsusunya kertrampilan menulis fenomena suatu budaya dan wisata.
Laporan karya wisata
ini dapat diselesaikan atas bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih kepada Kedua orang tua penulis yang sudah
memberikan dukungan dan bantuan berupa Moril dan Materiil, kepada Bapak Hawasi
selaku dosen pembimbing yang sudah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
menyelesaikan Karya wisata ini, dan kepada semua pihak yang secara langsung
ataupun tidak langsung telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan karya
wisata ini.
Penulis berharap
dengan terselesaikannya karya tulis ini dapat memberikan manfaat dan wawasan
kepada seluruh pembaca khususnya kepada Mahasiswa Universitas Gunadarma.
Penulis menyadari,
bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu kritik dan saran
yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.
DAFTAR ISI
Halaman
Judul............................................................................................................................. i
Abstraksi............................................................................................................................ ii
Kata
Pengantar............................................................................................................................. iv
Daftar
Isi............................................................................................................................ v
BAB
I Pendahuluan...............................................................................
1
1.1.Latar Belakang.....................................................................
1
1.2.Rumusan Masalah................................................................
1
1.3.Tujuan ................................................................................. 1
1.4.Tujuan Penelitian ............................................................................................. 2
1.5.Manfaat Penulisan............................................................................................. 2
1.6.Metodologi Penulisan............................................................................................. 2
BAB II Landasan Teori .......................................................................... 3
2.1.Pengertian Pariwisata..........................................................
3
2.2.Objek Dan Daya Tarik Wisata 6
2.3.
Pengembangan
Objek Wisata 7
2.4. Pengertian Wisatawan 8
2.5. Daerah Tujuan Wisata 9
2.6
. Prasarana Pariwisata 11
2.7.
Sarana Pariwisata. 12
2.8.
Masyarkat Dan Lingkungan. 13
2.9.
Pengertian Air Terjun Atau Curug. 14
BAB III Isi ............................................................................................................................ 16
3.1.Sejarah Curug
Leuwi Lieuk ............................................................................................................................ 16
3.2 Keistimewaan Curug
Leuwi Lieuk............................................................................................................................. 16
3.3. Situasi Dan
Kondisi Curug Leuwi Lieuk............................................................................................................................. 17
3.4. Lokasi, Fasilitas, Dan Harga Tiket
Masuk............................................................................................................................ .17
3.5. Pengembangan
Curug Leuwi Liuek............................................................................................................................. 18
BAB IV PENUTUP............................................................................................................................. 22
4.1. Kesimpulan............................................................................................................................. 22
4.2 Saran............................................................................................................................. 22
LAMPIRAN
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Indonesia
merupakan Negara yang memiliki banyak keistimewaan, baik dalam budaya dan
tempat wisatanya. Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan baik dari segi
keindahannya maupun adat istiadat yang ada di daerah tersebut sehingga menarik
minat wisatawan untuk mengunjunginya.
Sektor pariwisata sudah menjadi andalan setiap Negara dalam bidang
perekonomian, terlebih bagi Negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki
potensi wilayah yang luas dengan adanya daya tarik wisata yang cukup besar,
banyaknya keindahan alam, aneka warisan sejarah budaya dan kehidupan masyarakat
serta keindahan alam yang terbentuk secara alami selama bertahun-tahun sangat
menjadi hal yang patut di syukuri dan di banggakan. Sector
wisata yang ada di Indonesia sudah menjadi kegiatan perekonomian yang
dapat membantu perekonomian di Indonesia itu sendiri. Untuk menigkatkan peran kepariwisataan
di perlukan segala upaya agar segala sesuatunya berjalan dengan baik dan lebih
baik lagi. Propinsi Jawa Barat khususnya
Bogor memiliki banyak daya tarik wisata mulai dari kuliner, dan keindahan
alamnya. Bogor juga di kenal dengan sebutan kota hujan, kota yang nyaman dan
Asri dengan banyaknya pohon rindang yang dapat kita temukan di sepanjang jalan.
Selain Istana Negara yang ada di Bogor kita dapat menikmati wisata alamnya
yaitu Curug salah satunya ada di daerah Cileungsi yaitu Curug Leuwi Lieuk yang
masih belum banyak di ketahui oleh wisatawan, oleh karena itu perlu adanya
penjelasan kepada khalayak umum mengenai Curug Leuwi Lieuk.
1.2
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimanakah
sejarah Curug Leuwi Lieuk ?
2.
Bagaimanakah
keistimewaan yang di miliki Curug Leuwi Lieuk ?
3.
Bagaimana
situasi dan kondisi Curug Leuwi Lieuk, serta
bagiamana akses menuju Curug Leuwi Lieuk?
4.
Dimana
lokasi Curug Leuwi Lieuk dan fasilitas apa saja yang ada di sana ?
5.
Berapa
harga tiket masuk Curug Leuwi Lieuk ?
6.
Apakah
cara yang dapat di lakukan untuk mengembangkan curug Leuwi Lieuk ini?
1.3
Pembatasan
Masalah
Karena
curug yang ada di Indonesia banyak sekali, maka penulis membatasi masalah
dengan hanya menguraikan apa yang penulis ketahui mengenai curug yang berada di
Bogor yaitu Curug Leuwi Lieuk.
1.4
Tujuan
penelitian
1.
Untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah Tourism 1
2.
Meningkatkan
pengetahuan penulis mengenai objek wisata
3.
Mengetahui
lebih dalam mengenai Curug Leuwi Lieuk
1.5
Manfaat penulisan
1.
Untuk
menambah wawasan penulis dan pembaca mengenai obyek wisata
2.
Sebagai
sarana memperdalam ilmu pengetahuan
3.
Untuk
melatih kemampuan penulis dalam menulis laporan
1.6
Metodologi
Penulisan
a.
Metode
Observasi
Yaitu
proses pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung pada
obyek yang di tuju. Penulis menggunakan metode ini agar dapat melihat lebih
jelas dan langsung merasakan bagaimana keindahan yang terdapat di Curug Leuwi
Lieuk.
b.
Browsing
Internet
Yaitu
mencari data-data terkait mengenai informasi yang lebih signifikan Curug Leuwi
Lieuk.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Pengertian
Pariwisata
Sebelum penulis
menjelaskan tentang Curug Leuwi Lieuk, penulis akan memberi informasi mengenai
apa itu pengertian Pariwisata. Menurut
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009 tentang kepariwisataan
disebutkan bahwa pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung
berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha,
pemerintah, dan pemerintah daerah. Pariwisata adalah keseluruhan kegiatan
pemerintah, dunia usaha dan masyarakat untuk mengatur, mengurus dan melayani
kebutuhan wisatawan. (Karyono, 1997:15). Pariwisata merupakan rangkaian
kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik secara perorangan maupun kelompok di
dalam wilayah negara lain. Kegiatan tersebut menggunakan kemudahan, jasa dan
faktor penunjang lainnya yang diadakan oleh pemerintah dan atau masyarakat,
agar dapat mewujudkan keinginan wisatawan.
Menurut Ensiklopede Nasional Indonesia Jilid
12 bahwa pariwisata adalah kegiatan perjalanan seseorang atau seerombongan
orang dari tempat tinggal asalnya ke suatu tempat di kota lain atau di negara
lain dalam jangka waktu tertentu. Tujuan perjalanan dapat bersifat pelancongan,
bisnis, keperluan ilmiah, bagian kegiatan agama, muhibah atau juga
silahturahim. Pariwisata adalah suatu fenomena kebudayaan global yang dapat
dipandang sebagai suatu sistem. Dalam model yang dikemukakan oleh Leiper,
pariwisata terdiri atas tiga komponen yaitu wisatawan (tourist), elemen
geografi (geographical elements) dan industri pariwisata (tourism
industry).
Defenisi pariwisata menurut Yoeti (1996:108) adalah suatu
perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu, yang diselenggarakan dari
suatu tempat ketempat lain, dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari
nafkah ditempat yang dikunjungi tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan
hidup guna bertamasya dan rekreasi atau memenuhi keinginan yang beranekaragam.
Robert Mc.Intosh bersama Shashiakant Gupta mengungkapkan bahwa pariwisata
adalah gabungan gejala dan hubungan yang timbul dari interaksi wisatawan,
bisnis, pemerintah tuan rumah serta masyarakat tuan rumah dalam proses menarik
dan melayani wisatawan-wisatawan ini serta para pengunjung lainnya (Pendit,
1999:31).
The Ecotourism Society (1990) mendefinisikan pariwisata sebagai
berikut: “Pariwisata adalah suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang
dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan
dan kesejahteraan penduduk setempat”.
Pariwisata merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
kehidupan manusia terutama menyangkut kegiatan sosial dan ekonomi. Diawali dari
kegiatan yang semula hanya dinikmati oleh segelintir orang-orang yang relatif
kaya pada awal abad ke-20, kini telah menjadi bagian dari hak azasi manusia.
Hal ini terjadi tidak hanya di negara maju tetapi mulai dirasakan pula di
negara berkembang. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang dalam tahap
pembangunannya, berusaha membangun industri pariwisata sebagai salah satu cara
untuk mencapai neraca perdagangan luar negeri yang berimbang. Melalui industri
ini diharapkan pemasukan devisa dapat bertambah (Pendit, 2002).
Menurut Homby As (2001) wisata adalah
sebuah perjalanan dimana seseorang dalam perjalanannya singgah sementara di
beberapa tempat dan akhirnya kembali lagi ke tempat asal dimana dia melakukan
perjalanan.
Menurut Soetomo (1994:25) yang di
dasarkan pada ketentuan WATA ( World Association of Travel Agent = Perhimpunan
Agen Perjalanan Sedunia), wisata adalah perjalanan keliling selama lebih dari
tiga hari, yang di selenggarakan oleh suatu kantor perjalanan di dalam kota dan
acaranya antara lain melihat-lihat di berbagai kota atau tempat baik di dalam
maupun di luar Negri.
Menurut H.Kodyat (1983:4) wisata adalah
perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain yang bersifat sementara, di lakukan
perorangan maupun kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasian
dan kebahagian dengan lingkungan hidup dalam dimensi social, budaya, alam dan
ilmu.
Meurut Fandeli (2001) wisata adalah perjalanan atau sebagai dari kegiatan
yang di lakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati objek
dan daya tarik wisata.
Pengertian tentang pariwisata mengalami
perkembangan dari waktu ke waktu. Namun, pada hakekatnya, pengertian pariwisata
adalah suatu bentuk wisata yang bertanggungjawab terhadap kelestarian area yang
masih alami (natural area), memberi manfaat secara ekonomi
dan mempertahankan keutuhan budaya bagi masyarakat setempat. Atas dasar
pengertian ini, bentuk pariwisata pada dasarnya merupakan bentuk gerakan
konservasi yang dilakukan o!eh penduduk dunia. Eco-traveler ini
pada hakekatnya konservasionis.
Semula pariwisata dilakukan oleh wisatawan
pecinta alam yang menginginkan di daerah tujuan wisata tetap utuh dan lestari,
di samping budaya dan kesejahteraan masyarakatnya tetap terjaga. Namun dalam
perkembangannya ternyata bentuk pariwisata ini berkembang karena banyak
digemari oleh wisatawan. Pada tahun 1995 The Tourism Society kemudian
mendefinisikan pariwisata sebagai bentuk baru dari kegiatan perjalanan wisata
bertanggungjawab di daerah yang masih alami atau daerah-daerah yang dikelola
dengan kaidah alam dimana tujuannya selain untuk menikmati keindahannya juga
melibatkan unsur pendidikan, pemahaman dan dukungan terhadap usaha-usaha
konservasi alam dan peningkatan pendapatan masyarakat setempat sekitar daerah
tujuan pariwisata.
Di beberapa wilayah berkembang suatu pemikiran
baru yang berkait dengan pengertian pariwisata. Fenomena pendidikan diperlukan
dalam bentuk wisata ini. Hal ini seperti yang didefinisikan oleh Australian
Department of Tourism yang mendefinisikan pariwisata adalah wisata
berbasis pada alam dengan mengikutkan aspek pendidikan dan interpretasi
terhadap lingkungan alami dan budaya masyarakat dengan pengelolaan kelestarian
ekologis. Definisi ini memberi penegasan bahwa aspek yang terkait tidak hanya
bisnis seperti halnya bentuk pariwisata lainnya, tetapi lebih dekat dengan
pariwisata minat khusus, alternatife tourism atau special
interest tourism dengan obyek dan daya tarik wisata alam.
Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka terdapat lima hal
penting yang mendasari kegiatan pariwisata :
1.
Perjalanan wisata yang
bertanggung jawab, artinya bahwa semua pelaku kegiatan pariwisata harus
bertanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan dari kegiatan pariwisata
terhadap lingkungan alam dan budaya
2.
Kegiatan pariwisata
dilakukan ke/di daerah-daerah yang masih alami (nature made) atau di/ke
daerah-daerah yang dikelola berdasarkan kaidah alam.
3.
Tujuannya selain untuk
menikmati pesona alam, juga untuk mendapatkan tambahan pengetahuan dan
pemahaman mengenai berbagai fenomena alam dan budaya.
4.
Memberikan dukungan
terhadap usaha-usaha konservasi alam.
5.
Meningkatkan
kesejahteraan masyarakat setempat.
Menurut Pendit (1994), ada beberapa jenis pariwisata yang sudah
dikenal, antara lain:
1.
Wisata budaya, yaitu
perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup
seseorang dengan cara mengadakan kunjungan ke tempat lain atau ke luar negeri,
mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat mereka, cara hidup
mereka, kebudayaan dan seni meraka.
2.
Wisata kesehatan,
yaitu perjalanan seseorang wisatawan dengan tujuan untuk menukar keadaan dan
lingkungan tempat sehari-hari di mana ia tinggal demi kepentingan beristirahat
baginya dalam arti jasmani dan rohani.
3.
Wisata olahraga, yaitu
wisatawan-wisatawan yang melakukan perjalanan dengan tujuan berolahraga atau
memang sengaja bermakasud mengambil bagian aktif dalam pesta olahraga di suatu
tempat atau Negara.
4.
Wisata komersial,
yaitu termasuk perjalanan untuk mengunjungi pameranpameran dan pecan raya yang
bersifat komersial, seperti pameran industri, pameran dagang dan sebagainya.
5.
Wisata industri, yaitu
perjalanan yang dilakukan oleh rombongan pelajar atau mahasiswa, atau
orang-orang awam ke suatu kompleks atau daerah perindustrian, dengan maksud dan
tujuan untuk mengadakan peninjauan atau penelitian.
6.
Wisata Bahari, yaitu
wisata yang banyak dikaitkan dengan danau, pantai atau laut.
7.
Wisata Cagar Alam,
yaitu jenis wisata yang biasanya diselenggarakan oleh agen atau biro perjalanan
yang mengkhususkan usaha-usaha dengan mengatur wisata ke tempat atau daerah
cagar alam, taman lindung, hutan daerah pegunungan dan sebagainya yang
kelestariannya dilindungi oleh undang-undang.
8.
Wisata bulan madu,
yaitu suatu penyelenggaraan perjalanan bagi pasanganpasangan pengantin baru
yang sedang berbulan madu dengan fasilitas-fasilitas khusus dan tersendiri demi
kenikmatan perjalan.
Pariwisata
memiliki kharakteristik-kharakteristik antara lain :
1)
Bersifat
sementara, bahwa dalam jangka waktu pendek pelaku wisata akan kembali ke tempat
asalnya.
2)
Melibatkan
kompenen-kompenen wisata, misalnya sarana Transfortasi, Akomodasi, Restoran,
Objek wisata, Toko Cinderamata dan lain-lain.
3)
Umumnya
di lakukan dengan mengunjungi objek wisata dan atraksi wisata.
4)
Memiliki
tujuan tertentu yang intinya mendapatkan kesenangan.
Jadi menurut saya pariwisata adalah
kegiatan yang di lakukan baik perorangan atau sekelompok orang yang ingin
melihat dan merasakan keindahan alam atau tempat-tempat yang menarik guna
mendapat kepuasan hati dan juga agar memiliki pengalaman hidup yang menarik.
2.2
Pengertian
Objek dan Daya Tarik Wisata
Menurut S. nyoman Pendi (2002) objek
wisata atau tempat wisata adalah sebuah tempat rekreasi atau tempat berwisata. Objek
wisata dapat berupa wisata alam seperti gunung, danau, sungai, pantai, laut,
atau berupa objek wisata bangunan seperti museum, benteng, situs peninggalan
sejarah, dan lain-lain.
Menurut undang-undang Republik Indonesia
Nomor 9 tahun 1990 tentang kepariwisataan, ada dua jenis objek dan daya tarik
wisata, yaitu (1) objek dan wisata ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang berwujud
keadaan alam, flora dan fauna; dan (2) objek dan daya tarik wisata hasil karya
manusia yang berwujud museum, peninggalan purbakala, peninggalan sejarah, seni
budaya, wisata agro, wisata tirta, wisata buru, wisata petualangan alam, taman
rekreasi dan tempat hiburan.
Menurut Spillane (2002), Daya tarik
pariwisata adalah hal-hal menarik perhatian wisatawan yang di miliki oleh satu
daerah tujuan wisata.
Menurut Karyono (1997) satu daerah
tujuan wisata mempunyai daya tarik di samping harus ada objek dan atraksi
wisata, juga harus memiliki tiga syarat daya tarik, yaitu :
(1) Ada sesuatu yang bisa di lihat (something to see);
(2) Ada sesuatu yang bisa di kerjakan ( something to do );
(3) Ada sesuatu yang bisa di beli ( something to buy ).
Menurut Spillane (2002) ada lima unsure
penting dalam satu objek wisata yaitu :
(1) attraction
atau hal-hal yang menarik perhatian wisatawan;
(2) facilities atau fasilitas-fasilitas yang
di perlukan;
(3) infrastructure
atau infrastruktur dari objek wisata ;
(4) transportation
atau jasa-jasa pengangkutan;
(5) hospitality
atau keramahtamahan, kesdiaan untuk menerima tamu.
2.3
Pengembangan
objek wisatawan
Pengembangan
pariwisata adalah suatu usaha untuk mengembangkan atau memajukan objek wisata
agar objek wisata tersebut lebih baimdan lebih menarikdi tinjau dari segi
tempat maupun benda-benda yang ada di dalamnya agar dapat menarik minat
wisatawan untuk mengunjunginya,. Pengembangan pariwisata bertujuan untuk
memberikan keuntungan baik bagi wisatawan maupun warga setempat. Basis
pengembangan pariwisata adalah potensi sumber daya keragaman budaya, seni, dan
alam (pesona alam).
Menurut Undang-Undang No.9 tahun 1990
tentang kepariwaisataan, pasal (5) menyatakan bahwa pembangunan Objek dan Daya
Tarik Wisata (ODTW) di lalukan dengan cara mengusahakan, mengelola, dan membuat
objek-objek baru sebagai objek dan daya tarik wisata, kemudian pasal (60) di
nyatakan bahwa pembangunan objek dan daya tarik wisata di lakukan dengan
memperhatikan :
1.
Kemampuan
untuk mendorong peningkatan perkembangan kehidupan ekonomi social dan budaya.
2.
Nilai-nilai
agama, adat istiadat, serta pandanagn dan nilai-nilai yang hisup dalam
masyarakat.
3.
Kelestarian
budaya dan mutu lingkungan hidup.
4.
Kelangsungan
usaha pariwisata itu.
Dalam penelitian ini pengembangan wisata
di lakukan di objek wisata Curug Leuwi Lieuk yang berada di Pabuaran,
Sukamakmur,Cibadak, Sukamakmur, Bogor, jawa Barat. Dengan kekayaan alam yang di
miliki dana keindahan panoramanya serta melimpahnya sumber air di Curug Leuwi
Lieuk tersebut.
2.4
Pengertian
Wisatawan
Wisatawan
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari dunia pariwisata. Wisatawan sangat
beragam, tua-muda, orang asing-Nusantara, yang setiap individu memiliki
keinginan dan tujuan yang berbeda serta memiliki sudut pandang yang berbeda pula.
Wisatawan adalah orang-orang yang
melakukan kegiatan wisata ( Undang-Undang nomor 10 tahun 2009). Yang di maksud
dengan pengertian di atas adakah semua orang yang melakukan perjalan wisata,
apapun tujuannya dan tidak menetap untuk seterusnya serta mencari kesenangan di
tempat tersebut.
Menurut ( Bambang Sunaryo, 2013: 2) di
katakana bahwa wisatawan adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan
perjalanan untuk tujuan wisata, seperti untuk berekreasi (pleasure), berbisnis (business),maupun
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusu yang lain (special interest).
Definisi wisatawan menurut Norval (Yoeti, 1995) adalah setiap
orang yang datang dari suatu Negara yang alasannya bukan untuk menetap atau
bekerja di situ secara teratur, dan yang di Negara dimana ia tinggal untuk
sementara itu membalanjakan uang yang didapatkannya di lain tempat, sedangkan
menurut Soekadijo (2000), wisatawan adalah pengunjung di Negara yang
dikunjunginya setidak-tidaknya tinggal 24 jam dan yang datang berdasarkan
motivasi:
1.
Mengisi waktu senggang
atau untuk bersenang-senang, berlibur, untuk alasan kesehatan, studi, keluarga,
dan sebagainya.
2.
Melakukan perjalanan
untuk keperluan bisnis.
3.
Melakukan perjalanan
untuk mengunjungi pertemuan-pertemuan atau sebagai utusan (ilmiah, administratif,
diplomatik, keagamaan, olahraga dan sebagainya).
4.
Dalam rangka pelayaran
pesiar, jika kalau tinggal kurang dari 24 jam.
Berdasarkan sifat perjalanan, lokasi di mana perjalanan
dilakukan wisatawan dapat diklasifikasikan sebagai berikut (Karyono, 1997).
1. Foreign Tourist (Wisatawan asing)
Orang asing yang melakukan perjalanan wisata, yang datang
memasuki suatu negara lain yang bukan merupakan Negara di mana ia biasanya
tinggal. Wisatawan asing disebut juga wisatawan mancanegara atau disingkat
wisman.
2. Domestic Foreign Tourist
Orang asing yang berdiam atau bertempat tinggal di suatu negara
karena tugas, dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negara di mana ia
tinggal. Misalnya, staf kedutaan Belanda yang mendapat cuti tahunan, tetapi ia
tidak pulang ke Belanda, tetapi melakukan perjalanan wisata di Indonesia
(tempat ia bertugas).
3. Domestic Tourist (Wisatawan Nusantara)
Seorang warga negara suatu negara yang melakukan perjalanan
wisata dalam batas wilayah negaranya sendiri tanpa melewati perbatasan
negaranya. Misalnya warga negara Indonesia yang melakukan perjalanan ke Bali
atau ke Danau Toba. Wisatawan ini disingkat wisnus.
4. Indigenous Foreign Tourist
Warga negara suatu negara tertentu, yang
karena tugasnya atau jabatannya berada di luar negeri, pulang ke negara asalnya
dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negaranya sendiri. Misalnya, warga
negara Perancis yang bertugas sebagai konsultan di perusahaan asing di
Indonesia, ketika liburan ia kembali ke Perancis dan melakukan perjalanan
wisata di sana. Jenis wisatawan ini merupakan kebalikan dari Domestic
Foreign Tourist.
5. Transit Tourist
Wisatawan yang sedang melakukan perjalanan ke suatu Negara
tertentu yang terpaksa singgah pada suatu pelabuhan/airport/stasiun bukan atas
kemauannya sendiri.
6. Business Tourist
Orang yang melakukan perjalanan untuk tujuan bisnis bukan wisata
tetapi perjalanan wisata akan dilakukannya setelah tujuannya yang utama
selesai. Jadi perjalanan wisata merupakan tujuan sekunder, setelah tujuan
primer yaitu bisnis selesai dilakukan.
2.5
Daerah Tujuan Wisata
Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009
tentang kepariwisataan, menjelaskan beberapa pengertian istilah kepariwisataan,
antara lain.
1.
Wisata adalah suatu
kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh individu atau kelompok mengunjungi
suatu tempat dan bertujuan untuk rekreasi, pengembangan pribadi, atau untuk
mempelajari keunikan daya tarik suatu tempat wisata yang dikunjungi dalam waktu
sementara.
2.
Pariwisata adalah
berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai layanan fasilitas
yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah, dan pemerintah daerah.
3.
Daerah tujuan wisata
dapat disebut juga dengan destinasi pariwisata adalah kawasan geografis yang
berada dalam satu atau lebih wilayah administrasi yang di dalamnya terdapat
daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas pariwisata, aksesbilitas, serta
masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan.
Leiper (dalam Gde Pitana, 2005: 99) mengemukakan bahwa suatu
daerah tujuan wisata (destinasi wisata) adalah sebuah susunan sistematis dari
tiga elemen. Seorang dengan kebutuhan wisata adalah inti/pangkal (keistimewaan
apa saja atau karekteristik suatu tempat yang akan mereka kunjungi) dan
sedikitnya satu penanda (inti informasi). Seseorang melakukan perjalanan wisata
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menjadi daya tarik yang membuat seseorang
rela melakukan perjalanan yang jauh dan menghabiskan dana cukup besar. Suatu
daerah harus memiliki potensi daya tarik yang besar agar para wisatawan mau menjadikan
tempat tersebut sebagai destinasi wisata.
Menurut Jackson (dalam Gde Pitana, 2005: 101) suatu daerah yang
berkembang menjadi sebuah destinasi wisata dipengaruhi oleh beberapa hal yang
penting, seperti.
1.
Menarik untuk klien.
2.
Fasilitas-fasilitas dan
atraksi.
3.
Lokasi geografis.
4.
Jalur transportasi.
5.
Stabilitas politik.
6.
Lingkungan yang sehat.
7.
Tidak ada
larangan/batasan pemerintah.
Suatu destinasi harus memiliki berbagai fasilitas kebutuhan yang
diperlukan oleh wisatawan agar kunjungan seorang wisatawan dapat terpenuhi dan
merasa nyaman. Berbagai kebutuhan wisatawan tersebut antara lain, fasilitas
transportasi, akomodasi, biro perjalanan, atraksi (kebudayaan, rekreasi, dan
hiburan), pelayanan makanan, dan barang-barang cinderamata (Gde Pitana, 2005:
101). Tersedianya berbagai fasilitas kebutuhan yang diperlukan akan membuat
wisatawan merasa nyaman, sehingga semakin banyak wisatawan yang berkunjung.
Salah satu yang menjadi suatu daya tarik
terbesar pada suatu destinasi wisata adalah sebuah atraksi, baik itu berupa
pertunjukan kesenian, rekreasi, atau penyajian suatu paket kebudayaan lokal
yang khas dan dilestarikan. Atraksi dapat berupa keseluruhan aktifitas
keseharian penduduk setempat beserta setting fisik lokasi desa
yang memungkinkan berintegrasinya wisatawan sebagai partisipasi aktif seperti
belajar tari, bahasa, membatik seperti yang ada di Desa Wisata Krebet,
memainkan alat musik tradisional, membajak sawah, menanam padi, melihat
kegiatan budaya masyarakat setempat, dan lain-lain (Kementerian Kebudayaan dan
Pariwisata, 2011: 13).
Atraksi merupakan komponen yang sangat vital, oleh karena itu
suatu tempat wisata tersebut harus memiliki keunikan yang bisa menarik
wisatawan. Fasilitas-fasilitas pendukungnya juga harus lengkap agar kebutuhan
wisatawan terpenuhi, serta keramahan masyarakat tempat wisata juga sangat
berperan dalam menarik minat wisatawan. Faktor-faktor tersebut harus dikelola
dengan baik, sehingga menjadikan tempat tersebut sebagai destinasi wisata dan
wisatawan rela melakukan perjalanan ke tempat tersebut.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa destinasi
wisata merupakan interaksi antar berbagai elemen. Ada komponen yang harus
dikelola dengan baik oleh suatu destinasi wisata adalah wisatawan, wilayah, dan
informasi mengenai wilayah. Atraksi juga merupakan komponen vital yang dapat
menarik minat wisatawan begitu juga dengan fasilitas-fasiltas yang mendukung.
2.6
Prasarana Pariwisata
Prasarana wisata adalah sumberdaya alam dan
sumberdaya buatan manusia yang mutlak dibutuhkan oleh wisatawan perjalanannya
di daerah tujuan wisata, seperti jalan, listrik, air, telekomunikasi, terminal,
jembatan dan lain sebagainya. Untuk kesiapan objek-objek wisata yang akan
dikunjungi oleh wisatawan di daerah tujuan wisata, prasarana wisata tersebut
perlu dibangun dengan disesuaikan lokasi dan kondisi objek wisata yang
bersangkutan (Suwantoro, 1997: 21).
Pembangunan prasarana wisata yang mempertimbangkan kondisi dan
lokasi akan meningkatkan aksesbilitas suatu objek wisata yang pada gilirannya
akan dapat meningkatkan daya tarik objek wisata itu sendiri. Di samping
berbagai kebutuhan yang telah disebutkan di atas, kebutuhan wisatawan yang lain
juga perlu disediakan di daerah tujuan wisata seperti bank, apotik, rumah
sakit, pom bensin, pusat-pusat pembelanjaan dan sebagainya.
Dalam melaksanakan pembangunan prasarana wisata diperlakukan
koordinasi yang mantang antara instansi terkait bersama dengan instalasi
pariwisata di berbagai tingkatan. Dukungan instansi terkait dalam membangun
prasarana wisata sangat diperlukan bagi pengembangan pariwisata di daerah.
Koordinasi di tingkat perencanaan yang dilanjutkan dengan koordinasi di tingkat
pelaksanaan merupakan modal utama suksesnya pembangunan periwisata.
Dalam pembangunan prasarana pariwisata pemerintah lebih dominan
karena pemerintah dapat mengambil manfaat ganda dari pembangunan tersebut,
seperti untuk meningkatkan arus informasi, arus lalu lintas ekonomi, arus
mobilitas manusia antara daerah dan sebagainya yang tentu saja dapat
meningkatkan kesempatan berusaha dan bekerja.
Yang dimaksud dengan prasarana adalah semua fasilitas yang
memungkinkan proses perekonomian, dalam hal ini adalah sektor pariwisata dapat
berjalan dengan lancar sedemikian rupa, sehingga dapat memudahkan manusia untuk
memenuhi kebutuhannya. Jadi fungsinya adalah melengkapi sarana kepariwisataan
sehingga dapat memberikan pelayanan sebagaimana mestinya.
Prasarana pariwisata adalah semua fasilitas utama atau dasar
yang memungkinkan sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang dalam rangka
memberikan pelayanan kepada para wisatawan.
Prasarana wisata adalah sumber daya alam dan sumberdaya manusia
yang mutlak dibutuhkan oleh wisatawan dalam perjalanannya di daerah tujuan
wisata, seperti jalan, listrik, air, telekomunikasi, terminal, jembatan, dan
lain sebagainya. Suwantoro (2004:21)
2.7
Sarana Pariwisata
Sarana wisata merupakan kelengkapan daerah
tujuan wisata yang diperlukan untuk melayani kebutuhan wisatawan dalam
menikmati perjalanan wisatanya. Pembangunan sarana wisata di daerah tujuan
wisata maupun objek wisata tertentu harus disesuaikan dengan kebutuhan
wisatawan baik seecara kuantitatif maupun kualitatif. Lebih dari itu selera
pasar pun dapat menentukan tuntutan sarana yang dimaksud. Berbagai sarana
wisata yang harus disediakan di daerah tujuan wisata adalah hotel, biro
perjalanan, alat transportasi, restoran dan rumah makan serta sarana pendukung
lainnya. Tidak semua objek wisata memerlukan sarana yang sama atau lengkap.
Pengadaan sarana wisata tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan.
Sarana wisata secara kuntitatif menunjukan pada jumlah sarana
wisata yang harus disediakan, dan secara kuantitatif yang menunjukkan pada mutu
pelayanan yang diberikan dan yang tercermin pada kepuasan wisatawan yang
memperoleh pelayanan. Dalam hubungannya dengan jenis dan mutu pelayanan sarana
wisata di daerah tujuan wisata telah disusun suatu standar wisata yang baku,
baik secara nasional dan secara internasional, sehingga penyedia sarana wisata
tinggal memilih atau menentukan jenis dan kualitas yang akan diisediakannya
(Suwantoro, 1997: 23).
Sarana pariwisata adalah hal-hal yang keberadaannya adalah
berhubungan dengan usaha untuk membuat wisatawan lebih banyak datang, lebih
banyak mengeluarkan uang di tempat yang dikunjunginya. Dalam kepariwisataan
dikenal ada tiga macam sarana, yakni:
1.
Sarana
Pokok Kepariwisata (main tourism superstructure)
Yakni perusahaan-perusahaan yang fungsinya adalah menyediakan
fasilitas pokok kepariwisataan. Sarana ini juga dibagi ke dalam tiga bagian,
antara lain:
1. Receptive Tourist Plan
Adalah perusahaan yang mempersiapkan
perjalanan dan penyelenggaraan tour, sightseeing bagi
wisatawan.
Contoh : travel agent, tour operator,
tourist transportation, dan lain-lain.
2. Residential Tourist Plan
Adalah perusahaan yang memberikan pelayanan untuk menginap,
Contoh : hotel, motel, dan jenis akomodasi lainnya.
2. Sarana Pelengkap Kepariwisataan (supplementing
tourism superstructure)
Sarana pelengkap kepariwisataan adalah perusahaan atau tempat yg
menyediakan fasilitas yang fungsinya melengkapi sarana pokok dan membuat
wisatawan dapat lebih lama tinggal di suatu DTW. (Suwantoro, 1997)
1.
Sarana Ketangkasan
2.
Perlengkapan wisata
atau fasilitas rekreasi dan olah raga air.
3. Sarana Penunjang Kepariwisataan (supporting
tourism superstructure)
Sarana Penunjang Kepariwisataan adalah perusahaan yg menunjang
sarana pelengkap dan sarana pokok. Berfungsi tidak hanya membuat wisatawan
tertahan lebih lama tetapi berfungsi agar wisatawan lebih banyak mengeluarkan
uang di daerah yang dikunjunginya seperti :
1.
Karaoke/ Entertaint
2.
Ruang Atraksi Wisata
Pembangunan sarana wisata di daerah tujuan wisata maupun obyek
wisata tertentu harus disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan baik secara
kuantitatif maupun kualitatif. Sarana wisata secara kuantitatif merujuk pada
jumlah sarana wisata yang harus disediakan, dan secara kuantitatif yang
menunjukan pada mutu pelayanan yang diberikan dan yang tercermin pada kepuasan
wisatawan yang memperoleh pelayanan.
Kriteria dan standar minimal yang harus ada di daerah tujuan
wisata terdiri dari:
2.8
Masyarakat /
Lingkungan
Daerah dan tujuan
wisata yang memiliki berbagai Objek dan Daya Tarik Wisata akan mengundang
kehadiran wisatawan yang berkunjung. Adapun yang ikut berperan dalam
pengembangan suatu objek dan daya tarik wisata adalah sebagai berikut menurut
Suwantoro dalam bukunya Dasar-dasar Pariwisata (1997: 23-24) :
1.
Masyarakat
Masyarakat di sekitar objek wisatalah yang akan menyambut
kehadiran wisatawan tersebut dan sekaligus akan memberikan layanan yang
diperlukan oleh para wisatawan. Untuk ini masyarakat di sekitar objek wisata
perlu mengetahui berbagai jenis dan kualitas layanan yang dibutuhkan oleh para
wisatawan. Dalam hal ini pemerintah melalui instansi-instansi terkait telah
menyelenggarakan berbagai penyuluhan kepada masyarakat. Salah satunya adalah
dalam bentuk bina masyarakat sadar wisata. Dengan terbinanya masyarakat yang
sadar wisata akan berdampak positif karena mereka akan memperoleh keuntungan
dari wisatawan yang membelanjakan uangnya. Para wisatawan akan untung karena
mendapat pelayanan yang memadai dan juga mendapatkan berbagai kemudahan dalam
memenuhi kebutuhannya.
1.
Lingkungan
Di samping masyarakat di sekitar objek wisata,
lingkungan sekitar objek wisatapun perlu diperhatikan dengan seksama agar tak
rusak dan tercemar. Lalu lalang manusia yang terus meningkat dari tahun ke
tahun dapat mengakibatkan rusaknya ekosistem dari fauna dan flora di sekitar
objek wisata. Oleh sebab itu perlu ada upaya menjaga kelestarian lingkungan
melalui penegakan berbagai aturan dan persyaratan dalam pengelolaan suatu objek
wisata.
1.
Budaya
Lingkungan masyarakat dalam lingkungan alam di suatu objek
wisata merupakan lingkungan budaya yang menjadi pilar penyangga kelangsungan
hidup suatu masyarakat. Oleh karena itu lingkungan budaya ini kelestariannya
tidak boleh tercemar oleh budaya asing, tetapi harus ditingkatkan kualitasnya
sehingga dapat memberikan kenangan yang mengesankan bagi setiap wisatawan yang
berkunjung. Masyarakat yang memahami, menghayati dan mengamalkan Sapta Pesona
Wisata di daerah tujuan wisata menjadi harapan semua pihak untuk mendorong
pengembangan pariwisata yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat.
2.9
Pengertian
Air terjun (curug)
Air terjun merupakan sebuah formasi
geologi dari arus air yang mengalir melalui sebuah formasi batuan yang
mengalami macam-macam
erosi dan jatuh dari ketinggian tertentu. Singkatnya, air terjun
merupakan formasi aliran air yang jatuh dari ketinggian tertentu karena memang
lintasan airnya yang demikian.
Air terjun selain ada yang terbentuk
secara alami, ada pula yang sengaja dibuat oleh manusia. Misalnya saja di taman
kita sering melihat hiasan air yang mengalir ke bawah, nah itu adalah replika
air terjun yang dibuat oleh manusia. Karena pemandangan yang disuguhkan air
terjun sangat indah dan juga hawa yang dihasilkan begitu segar. Maka dari
itulah banyak yang membuat replika air terjun. Lalu, bagaimanakah sebenarnya
proses terbentuknya air terjun? Kita akan bahas selanjutnya.
Seperti kenampakan alam lainnya yang
ada asalnya, air terjun pun juga demikian. Pada dasarnya air terjun merupakan
sungai atau badan air lainnya yang jatuh dari tebing berbatu menuju ke kolam
terjun yang ada di bawahnya. Pergerakan air jatuh ini sebenarnya mengikuti
hukum alamiah air yaitu mengalir dari tempat tinggi menuju ke tempat yang lebih
rendah. Terus mengapa ada tebing? Tebing ini terbentuk karena peristiwa geologi
Bumi. Nah, itulah sebabnya mengapa air terjun lebih banyak kita temukan di
daerah pegunungan atau dataran tinggi.
Proses terbentuknya air terjun tidak
terlepas dari proses geologis yang bersangkutan dengan batuan dan juga sungai
yang mengalir. Secara sistematis proses terbentuknya air terjun adalah sebagai
berikut:
1.
Terdapat
perbedaan lapisan batuan apabila dilihat dari tingkat ketahanan terhadap pengikisan
air. Batuan tersebut ada yang bersifat hard rock/ batu yang keras dan soft
rock/ batu yang halus.
2.
Badan
air maupun sungai mengalir melewati lereng pegunungan, dalam waktu yang
bersamaan air tersebut mengikis lapisan batuan yang ada. Air akan lebih banyak
mengikis jenis-jenis
batuan soft rock daripada hard rock. Hal ini akan berakibat
terbentuknya kolam terjun sebagai daerah yang paling dalam.
3.
Bagian
overhang atau lapisan batuan keras yang menonjol akan runtuh karena dilemahkan
oleh erosi dan pelapukan dan ditarik ke bawah oleh gravitasi.
4.
Dalam
kurun waktu tertentu, air sungai yang turun menuju lembah tersebut kemudian
akan menjadi air terjun yang semakin lama akan semakin tinggi. disamping itu,
kolam terjun juga semakin lama akan semakin dalam karena pengikisan batuan
secara terus- menerus. Batu yang ambruk kemudian digunakan sebagai alat
pengikisan air untuk terus mengikis kedalaman kolam air terjun tadi. Itulah
alasan mengapa semakin lama air terjun terlihat semakin tinggi.
BAB III
ISI
3.1
Sejarah
Curug Leuwi Lieuk
‘Leuwi’ sendiri dalam bahasa Sunda artinya lubuk atau bagian
terdalam dari sungai. Nah, di kawasan Bogor banyak sekali lubuk indah yang
keberadaannya cukup tersembunyi dan masih jarang dikunjungi. Salah satunya
adalah Leuwi Lieuk ini. Seperti yang sudah diberitahui diawal, Lokasi Leuwi
Lieuk masih berada dalam satu kawasan dengan objek wisata Leuwi Hejo yaitu di
Kampung Wangun Cileungsi, Desa Karang Tengah, Kecamatan Madang, Kabupaten
Bogor. Leuwi Lieuk adalah tempat wisata di Bogor yang lumayan ngehits di
Instagram. Pemandangan di Leuwi Lieuk ini benar-benar indah dan eksotis, mirip
dengan tempat wisata di Pangandaran yaitu Green Canyon. Pengembagan curug ini
sebenarnya merupakan hasil dari pertimbangan berbagai pihak dan warga sekitar
agar dapat meningkatkan perekonomian di sana. Curug Leuwi Lieuk ini merupakan
curug yang belum terlalu di ketahui orang banyak maka masih dalam tahap
pengembangan sampai saat ini. Di dekat Curug Leuwi Lieuk juga ada beberapa
curug lain yang dapat di nikmati di kawasan tersebut seperti Curug Leuwi Hejo.
3.2
Keistimewaan
Curug Leuwi Lieuk
Curug Leuwi
Lieuk memiliki keindahan panorama alam yang indah, air yang sangat jernih dan
dingin, sangat cocok sebagai tempat untuk menghilangkan kepenatan aktivitas
sehari-hari. Surga tersembunyi yang terletak di balik lebatnya hutan pegunungan
sentul selatan yang membuat kita merasa takjub akan susasannya. Masyarakat
sekitar yang sangat ramah, melalui jalan-jalan pedesaan dengan hamparan tanaman
padi yang hijau, jalan berkelok-kelok yang sangat berbeda dengan keadaan di
kota yang dapat seketika menjernihkan pikiran. Sesampainya di Curug Leuwi Lieuk
kita akan merasakan udara segar dan suara air yang jernih dan berwarna hijau
yang di apit oleh dua tebing yang tinggi. Airnya sangat jernih membuat siapa
saja yang datang ingin berbasah-basahan. Selain menyegarkan tubuh, berwisata ke
tempat ini akan sekaligus menyegarkan pikiran kita. Kegiatan yang pailing menyenangkan
di sini adalah Cliff jump atau melompat dari sebuah tebing dan menyeburkan diri
di jernihnya air kolam curug Leuwi Lieuk.
3.3
Situasi,
kondisi dan akses menuju Curug Leuwi Lieuk
Pada saat
penulis melakukan kunjungan wisata ke curug Leuwi Lieuk, penulis sangat merasa
takjub dengan keindahan yang di berikan curug ini. Situasi di Curug Leuwi Lieuk
masih terbilang belum ramai pengunjung karena keberadaannya masih terbilang
baru dan belum banyak orang yang mengetahui curug ini dan kondisi curug yang
masih sangat alami karena tidak banyak kegiatan atau aktivitas yang dapat
merusak curug Leuwi Lieuk ini. Untuk menuju curug Leuwi Lieuk ini kita dapat
menggunakan sepeda motor maupun mobil, jalur menuju curug leuwi Lieuk ini
sedikit menanjak sehingga jika menggunakan mobil kita akan mengalami sedikit
kesulitan karena akses jalan masih berupa tanah dan bebatuan dan di sebelah
kanan jalan ada beberapa spot yang jika kita lewati harus sangat berhati-hati
karena kondisi jalan yang terjal. Untuk yang menggunakan kendaraan bermotor
akan lebih mudah namun usahakan kendaraan motor yang kita bawa tahan untuk
melewati jalanan menanjak, karena jika tidak menggunakan kendaraan motor yang
kuat bisa jadi salah satu orang yang ada di motor harus turun. Dan sesampainya
di parkiran serta loket pembayaran Curug
Leuwi Lieuk kita harus berjalan kaki lagi untuk menuju ke curugnya nya sekitar
40 menit tergantung dengan kondisi tubuh kita masing-masing. Jalanan yang masih
asri namun sedikit menanjak di kelilingi oleh hutan-hutan yang mengharuskan
kita untuk lebih berhati-hati melangkah, jika musim hujan tiba jalan akan
sedikit becek .kita harus memperhatikan Petunjuk arah menuju curug atau kita bisa meminta bantuan kepada warga
sekitar yang berjaga di pintu masuk agar
dapat mengantarkan kita sampai ke curugnya, mereka akan senang hati
mengantarkan kita sampai tempat tujuan. Tapi jangan khawatir dengan akses jalan
yang sedikit sulit karena sesampainya di tempat tujuan rasa lelah setelah
berjalan lama akan terbayarkan dengan keindahan Curug Leuwi Lieuk ini. Jika
kita mengunjungi curug ini pada hari minggu atau hari libur lebih di sarankan
agar pagi-pagi sekali karena jika kita datang sedikit siang sudah banyak
pengunjung lain yang berdatangan dan susah untuk mendapatkan tempat meletakan
barang bawaan kita seperti makanan, pada hari biasa pengunjung tidak terlalu
banyak yang datang.
3.4
Lokasi, Fasilitas, dan Tiket masuk di Curug
Leuwi Lieuk
Untuk lokasi
Curug Leuwi Lieuk beralamat di Desa Wangun Cileungsi, Karang Tengah, Babakan
Madang, Cibadak, Sukamakmur, Bogor, Jawa Barat. Supaya tidak salah arah kita
dapat menggunakan petunjuk jalan atau Maps. Jika terkadang jika kita sudah ada di aderah curug
tersebut kondisi internet kita akan mengamali sedikit kendala (khusus untuk
operator terntentu),maka kita dapat bertanya kepada warga sekitar dan mereka
akan memberitahu kita jalan menuju curug Leuwi Lieuk. Untuk wisatawan yang
berasal dari luar kota dapat dengan mudah menggunakan akses jalan tol setelah
keluar dari tol kita dapat melalui jalan biasa sekitar 30 menit dalam keadaan
lalu lintas lancar.
Setiap tempat
wisata pasti memiliki fasilitas yang di tawarkan, di Curug Leuwi Lieuk ini
memiliki fasilitas yang di bilang cukup lengkap, di Loket pembayaran fasilitas
yang ada adalah fasilitas warung, penitipan barang, toilet umum dan tempat
parkiran yang lumayan luas, Untuk fasilitas di Curug Leuwi Lieuk, ada beberapa
warung yang menjual makanan ringan, kamar ganti dan ada beberapa toilet serta
di sana ada sebuah Jembatan yang menghubungkan kita ke Gazebo atau saung yang
berada tepat di depan curug sehingga kita dapat melihat dan beristirahat di
saung tersebut. Ada juga tempat khsusu yang dapat di gunakan untuk memasang
tenda atau camping. Kita juga dapat melakukan barbeque atau masak-masak di saung
tersebut, dan tentu saja kita juga harus menjaga keadaan di tempat tersebut
agar tetap terjaga kebersihannya dengan membawa sampah bawaan kita pulang. Kita
bisa memakai dan membayar jasa porter untuk membawa barang bawaan kita dari
tempat parkiran ke curug Leuwi Lieuk.
Harga Tiket
Masuk Curug Leuwi Lieuk
Dan keistimewaan
lain yang di miliki curug Leuwi Lieuk ini adalah harga tiketnya yang sangat
terjangkau. Harga tiket yang masih bisa di jangkau oleh semua kalangan seperti
para pelajar, dan keluarga. Harga tiket yang cukup terbilang murah untuk dapat
menimati indahnya keindahan alam yang berada di curug Leuwi Lieuk ini Berikut
adalah harga tiket yang harus kita keluarkan untuk berwisata di kawasan ini :
· Harga Tiket
Masuk : Rp 10.000,- (hari biasa) dan Rp 15.000,- (hari Libur)
· Parkir Motor :
Rp 5.000,-
· Parker Mobil :
Rp 10.000,-
· (jika menggunakan jasa untuk membawa barang bawaan,
kita dapat membayarnya dengan biaya sukarela yang wajar, masyarakat akan sangat
dengan senang hati membantu kita)
· Jam operasional
( 07.00 s/d 17.00)
· Ada fasilitas
camping atau Base camp
3.5
Pengembangan
Curug Leuwi Lieuk
Perencanaan dan pengembangan pariwisata merupakan suatu
proses yang dinamis dan berkelanjutan menuju ketataran nilai yang lebih tinggi
dengan cara melakukan penyesuaian dan koreksi berdasar pada hasil monitoring
dan evaluasi serta umpan balik implementasi rencana sebelumnya yang merupakan
dasar kebijaksanaan dan merupakan misi yang harus dikembangkan. Perencanaan dan
pengembangan pariwisata bukanlah system yang berdiri sendiri, melainkan terkait
erat dengan sistem perencanaan pembangunan yang lain secara inter sektoral dan
inter regional.
Perencanaan pariwisata haruslah di dasarkan pada kondisi
dan daya dukung dengan maksud menciptakan interaksi jangka panjang yang saling
menguntungkan diantara pencapaian tujuan pembangunan pariwisata, peningkatan
kesejahteraan masyarakat setempat, dan berkelanjutan daya dukung lingkungan di
masa mendatang (Fandeli,1995). Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang
dalam tahap pembangunannya, berusaha membangun industri pariwisata sebagai
salah satu cara untuk mencapai neraca perdagangan luar negeri yang berimbang.
Pengembangan kepariwisataan saat ini tidak hanya untuk menambah devisa negara
maupun pendapatan pemerintah daerah. Akan tetapi juga diharapkan dapat
memperluas kesempatan berusaha disamping memberikan lapangan pekerjaan baru
untuk mengurangi pengangguran. Pariwisata dapat menaikkan taraf hidup
masyarakat yang tinggal di kawasan tujuan wisata tersebut melalui keuntungan secara
ekonomi, dengan cara mengembangkan fasilitas yang mendukung dan menyediakan
fasilitas rekreasi, wisatawan dan penduduk setempat saling diuntungkan.
Pengembangan daerah wisata hendaknya memperlihatkan tingkatnya budaya, sejarah
dan ekonomi dari tujuan wisata.
Pariwisata bukan saja sebagai sumber devisa, tetapi juga
merupakan faktor dalam menentukan lokasi industri dalam perkembangan
daerah-daerah yang miskin sumber-sumber alam sehingga perkembangan pariwisata
adalah salah satu cara untuk memajukan ekonomi di daerah-daerah yang kurang
berkembang tersebut sebagai akibat kurangnya sumber-sumber alam (Yoeti, 1997).
Gunn (1988), mendefinisikan pariwisata sebagai aktivitas ekonomi yang harus
dilihat dari dua sisi yakni sisi permintaan (demand side) dan sisi pasokan
(supply side). Lebih lanjut dia mengemukakan bahwa keberhasilan dalam
pengembangan pariwisata di suatu daerah sangat tergantung kepada kemampuan
perencana dalam mengintegrasikan kedua sisi tersebut secara berimbang ke dalam
sebuah rencana pengembangan pariwisata.
Menurut Robert (Toety, 1990). Kelincahan dalam berusaha
harus dilakukan agar pendapatan selama musim kedatangan wisatawan bisa menjadi
penyeimbang bagi musim sepi wisatawan. Pengaruh yang ditimbulkan oleh
pariwisata terhadap ekonomi ada dua ciri, pertama produk pariwisata tidak dapat
disimpan, kedua permintaanya sangat tergantung pada musim, berarti pada bulan
tertentu ada aktivitas yang tinggi, sementara pada bulan-bulan yang lain hanya
ada sedikit kegiatan.
Dan
cara untuk mengembangkan tempat wisata Curug Leuwi Lieuk ini adalah
1)
Mencari
investor atau perusahaan yang dapat membantu dalam pengembangan tempat wisata ini, para investor akan
tertarik jika memang tempat wisata ini memiliki potensi yang bagus dan
menguntungkan untuk di jadikan investasi bersama denga masyarakat sekitar.
Tidak di pungkiri biaya masih menjadi masalah terbesar dalam mengembangkan
suatu tempat wisata dimana akan banyak sekali kebutuhan yang harus di penuhi
guna memperbaiki atau membuat sebuah bangunan, akses jalan, dan fasilitas
lainnya. Dengan adanya biaya yang cukup akan sangat mudah dalam merealisasikan
pengembangan curug Leuwi Lieuk ini kedepannya.
2)
Atau
dengan mengajukan surat pengajuan kepada pemerintah bahwa ada wisata menarik
yang berada di desa tersebut yang memiliki keindahan alam dan potensi wisata
yang menjanjikan kedepannya yang dapat membantu perekonomian Negara. Sehingga
tempat wisata itu dapat di kembangkan dan menjadi asset Negara yang dapat di
nikmati oleh semua orang. Bantuan Pemerintah masih sangat di perlukan untuk
mengembangkan tempat wisata ini mengingat tempat wisata ini masih belum terlalu
banyak yang mengetahui dan pengunujung yang datang masih dari kalangan atau
orang-orang sekitar curug Leuwi Lieuk ini
3)
Dengan
mengadakan promosi baik secara langsung maupun tidak langsung misalnya, promosi
yang di lakukan secara tidak langsung dapat di lakukan di media sosila seperti
facebook, instagram, dan media social lainya atau dengan adanya siaran televise
yang mengulas tentang tempat tersebut. Agar dapat di ketahui oleh banyak orang
jangan lupa untuk memberikan penjelasan secara lengkap mengenai curug Leuwi
Lieuk tersebut
4)
Dengan
adanya usaha dari masyarakat itu sendiri yang melakukan kerja sama atau gotong
royong yang di lakukan di tempat wisata itu, dengan mengumplan dana wisatawan
yang datang dan menggunaknnya untuk membeli bahan-bahan yang di butuhkan untuk
membangun jalan atau fasilitas lainnya di curug tersebut. Masyarakat dapat
melakukan perbaikan jalan atau perataan jalan dengan alat-alat sederhana agar
para wisatawan dengan mudah sampai ke Curug Leuwi Lieuk ini. Mengingat di curug
ini akses jalan masih belum terlalu bagus maka di khawatirkan akan banyak
kecelakaan yang dapat merugikan wisatawan maupun warga setempat.
5)
Penambahan
objek wisata yang ada di sekitar curug Leuwi lieuk misalnya membuat permainan
untuk anak, dengan menambah jumlah fasilitas kamar mandi dan ruang ganti yang
tertutup karena ketika penulis kesana fasilitas untuk ruang ganti hanya
terdapat di salah satu halaman belakang warung yang berada di sana.
BAB
IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Kesimpulannya
adalah curug Leuwi Lieuk merupakan destinasi wisata yang sangat amat menarik
dengan keindahan alam yang mententramkan, airnya yang jernih dan dingin dapat
menyegarkan tubuh kita, akan tetapi masih banyak kendala menuju curug yaitu
jalan yang masih belum rapih dan sedikit berbahaya dan masih kurangnya
fasilitas yang tersedia di sana. Sehingga masih di butuhkan proses pengembangan
lanjut agar curug Leuwi Lieuk dapat di kunjungi oleh semua orang.
4.2
Saran
Setiap
tempat wisata pasti memiliki keindahnnya masing-masing mari budayakan tempat
wisata di sekitar kita agar tetap terlalu kebersihannya, buaglah sampah pada
tempatnya, dan jaga etika kita ketika sedang berwisata dimanapun karena
setiap-setiap kehidupan ada bagian masing-masing baik yang terlihat maupun yang
tidak terlihat.
LAMPIRAN
Berikut
adalah gambaran curug Leuwi Lieuk ketika
berkunjung secara langsung
1.
Kondisi
curug Leuwi Lieuk ketika masih belum banyak wisatawan yang datang, sekitar
pukul 07.00 pagi

2.
Ketika
sudah ramai pengunjung yang datang sekitar pukul 8.30 pagi

3.
Gazebo
atau saung untuk bersantai dan beristirahat
Daftar Pustaka
Anonim, 1999, Ekowisata Harusnya Melestarikan
Lingkungan, Intisari On The Net. www.indomedia.com
Anonim, 1996, Aliansi-Ecotourism : Teman atau
Lawan ? Aliansi Media Bagi Persahabatan Indonesia-Kanada.
Anonim, 2003, Proposal Workshop Wisata
Petualangan dan Ekoturisme.
Arendt, H.1958. The Human Condition.Chicago
: The University Chicogo Press.
Direktorat Jenderal Pariwisata, Depparsenibud RI,
1998, Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional
1998, Laporan Akhir, No.1,
Djogo, Toni. 2003. Kelembagaan dan Kebijakan dalam
Pengembangan Agroforestri. Bogor: World Agroforestry Centre.
Fandeli, Chafid
(ed), 2001. Dasar-dasar Manajemen Kepariwisataan Alam. Yogyakarta: Liberty.
Rudana, Nyoman.
2008. Strategi Pengembangan Pariwisata Bali. Jakarta: Lembaga Administrasi
Negara.
Yoeti, Oka, A,.
1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Angkasa.
_______. 1996.
Pemasaran Pariwisata Terpadu. Bandung: Angkasa.
_______. 2008.
Ekonomi Pariwisata. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
_______. 2008.
Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita.
Komentar
Posting Komentar