Kesulitan
Dalam Proses Wawancara dan Cara Mengatasinya
Menggali informasi
merupakan sebuah tujuan dari seorang wartawan, menggali sebuah fakta, alasan,
dan opini atas sebuah peristiwa, baik yang sudah, sedang ataupun yang akan
berlangsung. Dalam menggali informasi saat berhadapan dengan narasumber atau
bercakap lewat telepon atau bertukar pesan lewat gadget, ingatlah bahwa tujuan
seorang wartawan hanya satu, yaitu menggali informasi. Untuk melakukan hal
tersebut wartawan dapat melakukan sebuah wawancara, namun dibalik hal tersebut
tentunya wartawan pernah menjumpai kesulitan dalam proses wawancara.
Namun apakah kesulitan
yang dihadapi wartawan dalam proses wawancara, dan bagaimanakah cara mengatasi
kesulitan tersebut?
Menurut pendapat saya kesulitan kesulitan yang dihadapi oleh para wartawan dan cara yang tepat mengatasi kesulitan saat melakukan proses wawancara adalah
Kurangnya Wawasan
Saya
sering melihat di layar televisi dimana para wartawan mengerumini narasumber. Di
antara sekian banyak yang menyorongan alat perekam kearah narasumber, hanya
sedikit saja yang mengajukan pertanyaan pada saat proses wawancara. Di mata
narasumber yang kritis, wartawan yang
minim wawasan kemungkinan akan diperdaya oleh narasumbernya dengan memberikan
opini sesuai dengan kemauan narasumber. Seperti yang kita tahu untuk mendaptkan
sebuah informasi yang akurat seorang pewawancara tidak hanya bertanya, namun
juga menerangkan, meluruskan atau membantah pernyataan dari narasumber jika hal
itu tidak sesuai kenyataannya. Hal ini
tentu saja dapat mempersulit proses wawancara. Tentu saja hal yang harus dilakukan oleh
wartawan untuk mengatasi hal ini adalah dengan belajar dari pengalaman dan
banyak membaca sehingga dapat menambah wawasan wartawan tersebut.
Dapat terjadi Kepura-puraan dalam wawancara (artificiality of the interview).
Dalam melakukan sebuah wawancara, seorang wartawan harus pandai melihat bahasa tubuh atau mencari tahu sebelumnya mengenai narasumber, sehingga wartawan tetap dapat mengajukan pertanyaan cadangan jika dalam pertanyaan sebelumnya narasumber tersebut berpura-pura atau berbohong ketika memberikan jawaban
Kekurangan kepercayaan (lack of trust).
Dalam melakukan sebuah wawancara, tentu saja baik wartawan maupun narasumber harus membangun kenyaman satu sama lain agar tidak terjadi situasi kurang nyaman ketika melakukan proses wawancara.
Untuk mengatasi hal ini wartawan dapat bersikap ramah terhadap narasumber dan mencoba membangun hubungan baik karena bagaimanapun narasumber merupakan sumber berita bagi wartawan
Kekurangan waktu (lack of time).
Terbatasnya waktu narasumber menyebabkan para wartawan tidak dapat atau kesulitan dalam memperoleh data yang lengkap.
Untuk mengatasi hal ini baik pihak wartawan maupun narasumber sebaiknya membuat perjanjian terlebih dahulu, namun jika wawancara yang dilakukan bersifat spotanitas seperti wawancara yang dilakukan ketika narasumber berjalan atau melakukan aktivitas lain sudah seharusnya wartawan menentukan strategy yang tepat dalam mengatasi kesulitan ini.
5. Ambiguities
Bahasa (ambiguity of language).
Dalam melakukan sebuah wawancara seorang waratwan
tentu saja bertemu dengan berbagai jenis ataupun karakter narasumber, hal ini
biasanya memiliki tantangan tersendiri dimana ketika melakukan wawancara baik
narasumber maupun wartawan mengalami kesulitan dalam bahasa.
Hal yang harus dilakukan oleh wartawan adalah
belajar dari pengalaman terdahulu, dan memperbanyak pengetahuan akan kosa kata
agar dengan mudah mencerna apa yang sudah diucapkan oleh narasumber.
Sekian untuk penjelasaan saat ini, selain pendapat
saya pribadi saya mengutip pernyataan dari Myers dan Newman (2007). Terima
kasih
Myers, M. D., dan Newman, M. (2007). The qualitative interview in IS research: Examining the craft. Information and Organization, 17(1), 2-26.

Komentar
Posting Komentar